![]() |
| Ilustrasi. (Foto: Unsplash) |
Kehidupan modern saat ini tidak terlepas dari penggunaan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI). Bahkan, tren yang muncul dalam beberapa tahun terakhir adalah manusia semakin terbiasa mengobrol dengan AI chatbot, seperti ChatGPT, Google Gemini, Microsoft Copilot, dan lainnya. Masyarakat Indonesia pun sudah sangat akrab dengan aktivitas mengobrol dengan AI chatbot dalam kehidupan sehari-hari. Faktanya, 80 persen pengguna mengatakan bahwa mereka berinteraksi dengan alat dan fitur AI setiap hari. Di samping itu, 68 persen pengguna AI di Indonesia mengaku melakukan percakapan dan mengajukan pertanyaan kepada AI chatbot. Bahkan, 50 persen pengguna mengatakan bahwa mereka mengandalkan AI untuk membuat keputusan dengan lebih cepat tanpa perlu banyak berpikir (Google Indonesia, 2025, November).
AI chatbot yang kian canggih mampu berkomunikasi dengan pengguna, memahami maksud secara real-time, serta menyediakan berbagai konten yang dibutuhkan. Tidak heran apabila AI chatbot kian populer karena mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. Bagi individu yang hidup dalam tekanan dan ritme cepat, chatbot memberikan hiburan dan kenyamanan. Namun demikian, penggunaan AI chatbot juga membawa implikasi psikologis yang harus disadari. Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan adalah self-esteem, yang didefinisikan sebagai evaluasi seseorang secara keseluruhan terhadap dirinya sendiri atau keberhargaan diri (Myers, 2022, hal. 37).
Sejalan dengan itu, jurnal penelitian yang dimuat di Behavioral Sciences (MDPI) mengeksplorasi dampak interaksi AI terhadap indikator kesejahteraan psikologis, termasuk self-esteem. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen within-subjects, di mana seluruh partisipan mengalami dua kondisi: interaksi seperti teman dengan AI chatbot dan journaling sebagai kondisi kontrol. Eksperimen ini menyelidiki bagaimana lima hari interaksi sosial dengan AI chatbot yang dirancang menyerupai teman, dibandingkan dengan praktik reflektif journaling, memengaruhi perubahan sikap dan persepsi terhadap AI (Ho, 2026).
Dalam penelitian tersebut, journaling adalah aktivitas menulis jurnal harian oleh peserta sebagai kondisi kontrol. Pada kondisi kontrol, peserta diminta untuk menulis jurnal setiap malam selama minimal lima menit selama lima hari berturut-turut. Tidak ada pembatasan topik yang boleh ditulis dalam jurnal. Hanya saja, waktu pelaksanaan dipilih pada malam hari untuk menuangkan refleksi dan pengalaman sepanjang hari sehingga tulisan lebih komprehensif dan jujur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi seperti teman dengan AI chatbot selama lima hari tidak meningkatkan sebagian besar indikator kesejahteraan psikologis. Secara khusus, ditemukan perbedaan signifikan pada self-esteem: peserta melaporkan tingkat self-esteem yang lebih tinggi setelah melakukan journaling dibandingkan setelah berinteraksi dengan AI chatbot.
Peningkatan self-esteem yang sehat cenderung muncul dari evaluasi diri yang autentik dan spesifik, bukan sekadar umpan balik umum atau interaksi yang bersifat dangkal. Journaling mendorong individu melakukan refleksi diri yang lebih mendalam dan personal, sehingga memperkuat self-concept dan rasa kompetensi internal. Sebaliknya, interaksi dengan AI chatbot, meskipun meningkatkan persepsi empati dan animacy (kesan bernyawa) terhadap teknologi, tidak selalu memenuhi kebutuhan psikologis yang mendasari pembentukan self-esteem.
Penelitian lain juga melihat mekanisme psikologis yang menghubungkan self-esteem dengan problematic AI chatbot use (PACU). Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-esteem memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap PACU. Artinya, individu dengan low self-esteem lebih rentan mengembangkan perilaku penggunaan AI chatbot yang bersifat maladaptif alias secara berlebihan dan tidak sehat (Yao, 2025).
Temuan utama penelitian ini adalah bahwa hubungan antara self-esteem dan PACU tidak bersifat langsung semata, tetapi dimediasi oleh beberapa kondisi psikologis, baik negatif maupun positif:
- Social anxiety memediasi hubungan tersebut, di mana individu dengan low self-esteem lebih rentan mengalami kecemasan sosial dan menggunakan AI chatbot sebagai coping strategy.
- Escapism juga berperan sebagai mediator, karena individu dengan low self-esteem cenderung menggunakan chatbot untuk melarikan diri dari tekanan atau perasaan negatif dalam kehidupan nyata.
- AI chatbot flow turut menjadi mediator, menunjukkan bahwa pengalaman positif berupa keterlibatan mendalam (flow experience) justru dapat memperkuat risiko PACU.
- Selain itu, escapism dan AI chatbot flow secara serial memediasi hubungan tersebut, yang berarti dorongan untuk melarikan diri dari realitas dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya flow, yang pada akhirnya memperbesar risiko penggunaan yang bermasalah.
Dalam jurnal disebutkan bahwa self-esteem merujuk pada representasi mental individu tentang dirinya sendiri, mencerminkan rasa nilai diri secara keseluruhan. Individu dengan high self-esteem memiliki citra diri positif dan merasa percaya diri terhadap kemampuannya. Sebaliknya, individu dengan low self-esteem cenderung fokus pada perasaan negatif dan mengabaikan pencapaian mereka. Hasil penelitian tersebut menegaskan pentingnya meningkatkan kesadaran pengguna terhadap potensi risiko ketergantungan AI chatbot, khususnya bagi individu dengan kerentanan psikologis tertentu.
Meskipun AI chatbot telah menjadi bagian penting dalam kehidupan modern dan menawarkan berbagai kemudahan, penelitian menunjukkan bahwa interaksi dengan AI chatbot tidak secara signifikan meningkatkan kesejahteraan psikologis, khususnya self-esteem. Sebaliknya, praktik reflektif seperti journaling terbukti lebih efektif dalam memperkuat self-concept dan membangun self-esteem yang autentik karena mendorong evaluasi diri yang mendalam dan personal. Selain itu, self-esteem yang rendah berkaitan dengan meningkatnya risiko PACU. Dengan demikian, penguatan self-esteem melalui refleksi diri yang sehat menjadi kunci agar penggunaan AI chatbot tetap adaptif, seimbang, dan tidak berkembang menjadi ketergantungan yang merugikan.
Oleh karena itu, Pengembang AI juga perlu mempertimbangkan aspek psikologis dalam desain sistem untuk meminimalkan potensi dampak negatif dan tidak mendorong ketergantungan psikologis. Para pemangku kepentingan perlu mengembangkan strategi terpadu yang menempatkan pembangunan self-esteem, kecerdasan sosial, dan kebijaksanaan sosial sebagai fondasi kemajuan bangsa. Pemerintah dan institusi pendidikan perlu mengintegrasikan pendidikan dengan praktik reflektif seperti journaling untuk membentuk self-esteem yang secure, yang keberhargaan diri individu didasarkan pada siapa dirinya yang sebenarnya. Di samping itu, journaling bukan hanya sarana psikologis, tetapi juga ruang hening untuk berdoa, bersyukur, dan merefleksikan penyertaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pertumbuhan diri berjalan selaras dengan pertumbuhan iman dan kedewasaan rohani.
*Ditulis untuk memenuhi tugas esai individual bertema Explaining Myths, Local Wisdoms, Social Reality Around Us, Psikologi Sosial dan Komunitas
— — — — — — — — —
Daftar Pustaka
Google Indonesia. (2025, November). e-Conomy SEA 2025: Indonesia, Pusat Kekuatan AI Baru Asia Tenggara. https://blog.google/intl/id-id/company-news/outreach-initiatives/e-conomy-sea-2025-indonesia-pusat-kekuatan-ai-baru-asia-tenggara/
Myers, D. G., & Twenge, J. M. (2022). Social Psychology, Fourteenth Edition. McGraw Hill.
Ho, J. Q. H., Hu, M., Goh. A. Y. H., Pragasam, J. E., & Hartanto, A. (2026). How Consistent Friendlike Conversation with AI Companions Influences Our Attitudes and Perceptions Toward AI: An Exploratory Experiment. Behavioral Sciences. 16(2), 278. https://doi.org/10.3390/bs16020278
Yao, R., Qi, G., Dongfang, S., Sun, H., & Zhang, J. (2025). Connecting self-esteem to problematic AI chatbot use: the multiple mediating roles of positive and negative psychological states. Frontiers. 16. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1453072
.jpg)
.png)
0 Comments